Senin, 27 September 2010

ibu dan aku

Aku baru saja menginjakan kaki di kota yang memang sudah tidak asing lagi bagiku, kota yang padat, berpolusi, riuh, yang walaupun begitu aku tetap merindukannya, ibu kota Indonesia, Jakarta. Karena selama lebih dari satu bulan aku sudah memulai hidupku yang baru, menjadi seorang mahasiswi di Yogyakarta. Memang hari itu, rasa kangen dengan keluarga, sudah tak bisaku bendung lagi, kalau bisa aku keluarkan mungkin aku sudah teriak ketika di Stasiun Senen tadi “aaaa….. sumpah Jakarta lagi, kangen ibuu ayah” dan langsung memeluk mereka, terutama ibu.

Ibu yang selalu menemaniku di rumah selama aku menunggu kepastian untuk menjadi seorang mahasiswa, tepatnya sih saat menjadi pengangguran menunggu kuliah, rutin aku bersamanya, tetapi setelah aku menyandang kata mahasiswa aku malah merasa menjauh dari ibu. Aku merantau ke Jogja. Beberapa kali air mata itu menetes tanpaku sadari, saat aku berada di kamar kosan 3x3 yang sangat beda suasananya dengan suasana rumah dan yang pasti disana tidak ada ibu. Dan sering kali aku menangis mengingat ibu, walaupun perempuan yang satu ini terekenal suka marah, tapi aku kangen sama amarahnya. “Ibu kalau saja tau kakak disini sendiri, kakak puasa pertama enggak saur bareng, buka bareng. Kakak kangen bu”. Tapi aku selalu bertekad bahwa aku bisa. Aku akan membuat ibu senyum ketika aku bisa.

Hayalan flashback di kosan menemani perjalananku ke rumah, singkat cerita aku sudah sampai di depan gang rumahku. Saking kangennya sama ibu, aku berlari dari depan gang ke rumah yang kira-kira berjarak 500m. aku tau banyak mata yang melirik kearahku saat itu tapi, “bodo amat ah, Ibuuu…. Ayah.. kakak pulang” terlihat pintu rumah terbuka, dan ada seorang wanita yang tersenyum lebar “kakak…” dan memelukku, itu pelukan terindah yang lama tidak aku dapatkan di Jogja, pelukan ibu, hangat, nyaman. Disusul dengan ayah. Enggak terasa juga, ternyata air mata itu jatuh lagi, saking kangennya sama mereka. Pagi itu terasa lebih indah, beda banget dengan di Jogja. Cerita aku di Jogja memulai forum pagi itu.
Setelah itu aku tidur seharian, mungkin karena aku terlalu capek, dan mereka semua memakluminya. Mereka membiarkan aku tidur di kamar, biasanya menyuruhku “nyuci priring kak, nyapu kek, masa anak cewe tidur mulu”. Enggak terasa maghrib terdengar, dan sluuurp dengan lahapnya aku menyantapi menu buka hari itu, mungkin ibu melihatku sedikit bingung “ini kakak enggak pernah makan apa disana, jadi diforsir dirumah..”
Hari-hariku terasa sempurna di rumah, walaupun emang enggak terlalu bebas seperti aku di Jogja, misalnya aku harus bangun pagi jam 7, terus nyuci piring pekerjaan wajibku, terus nyapu, dan yang lainnya. Mungkin aku sering terlihat berleyeh-leyeh di kamar, yang membuat mereka sebel ngeliat aku. Belum lagi kegiatan buka bersama yang sudah direncanakan teman-temanku yang membuatku suka pulang malam, sekitar jam sembilan atau setengah 9an. Karena peraturan dirumah ANAK-ANAK IBU ENGGAK ADA YANG KELUAR MALEM. Peraturan ini berlaku untukku dan adik laki-lakiku yang berusia 17th, Fiqar namanya. Aku dan dia soulmate banget deh, suka bikin yang aneh-aneh dirumah, sampai ibu marahnya bukan main ke kita berdua. Contohnya saja, Cuma gara-gara hal sepele tentang GERY CHOCOLATOS, kita sempet dimarahin ibu. Aku udah beli capek-capek buat dimakan setelah sholat teraweh, eh ternyata pas aku pulang sholat 5 geri GERY CHOCOLATOSku diembat sama fiqar, kesel juga kan? Bete terus aku marah-marah. Mungkin agak sedikit lebay marah-marahnya eh tiba tiba ibu juga marahin kita berdua. Terasa anak kecil banget.

Sampai suatu hari H-5 lebaran, puncak marah ibu. Aku sedikit disidang di forum keluarga, emang keluargaku sering membuat forum dadakan katanya biar semua anak ibu-ayah terbuka sama orang tuanya. Ibu mulai topik keuanganku di Jogja, yang katanya aku berfoya-foya disana, karena ibu selalu memantau keuanganku via m-banking. Padahal enggak sama sekali, aku enggak seperti itu kok belaku. Terus dilanjutkan dengan aku dan teman lawan jenisku yang sudah menjadi pacar istilah sekarang. Ibu kurang suka dengan dia dan dia bilang “enggak ada dia kak. enggak”. Jlepp. Nusuk lagi kan? Terus ayah lagi menimpali lagi yang membuatku sedikit terpojokan oleh nasehat keduanya yang persepsi aku saat itu mereka sedang marah. Dan ibu enggak mau denger alasanku sama sekali. Belum lagi ibu mengungkit, selama aku di Jakarta aku buka puasa diluar terus. “mau jadi apa anak perempuan keluar malem, magrib-magrib”. Tapi kan emang udah ada schedule kayak gitu. Ibu enggak mau dengerin alasanku lagi. Malahan dia ngomong gini “iya ibu tau kakak udah pinter, ibu yang salah. Ibu minta maaf”. Ibu bilang kayak gitu, tambah enggak enak kan aku jadinya. Memang kalau dipikir-pikir sosok perempuan yang satu ini sering membuatku jengkel sendiri, merasa dirinya selalu benar, dan pikiran-pikiran negatif tentang ibu langsung keluar. Saat itu aku berfikir, kenapa aku harus pulang ke Jakarta, toh enakan juga di Jogja enggak ada yang marahin, bawel, dan hidup bebas disana, dalam artian masih dalam batas kewajaran, bukan yang lain-lain.

Semenjak kejadian sidang kecil itu, ibu jadi dingin kepadaku negur aja enggak, apalagi ngajak ngobrol. Jadi intinya suasana di rumah jadi dingin. Aku Cuma diem di kamar, sesekali keluar tanpa menegur ibu. Gilaaaa kan mau lebaran malah marahan. Itu kebiasaan ibu kalo lagi slek sama anaknya, ibu hanya diam. Tapi aku enggak suka dengan sikapnya kayak gini, jadi merasa lebih bersalah gitu. Sampai H-2 lebaran, aku membuka topik, aku dan ibu berdua berbicara, aku mengutarakan semua unek-unekku, pikiran negatif tentang ibu, dan beberapa argumen kalau aku benar.

“ibu, ibu tau enggak? Enggak selamanya orang tua itu selalu benar.”
“iya ibu tau”
“nah, aku udah berfikir, enggak bagus juga sikap ibu kayak gini, hanya diam. Aku jadi merasa lebih bersalah banget bu. Ibu enggak tau kan? Sebenernya, dengan sikap ibu kayak gini aku berfikir, ngapain aku ke Jakarta cuma bikin capek doang, padahal disini aku kayak enggak dianggep. Aku didiemin. Mana enak? Sedih tau bu, tau enggak aku disini padahal mau manja-manjaan, aku kangen ibu, tapi malah ibu kayak gini. Bener kok bu, aku yang sekarang, aku yang di Jogja, enggak seperti yang ibu pikirin, enggak bu. Dibilang aku foya-foya, aku enggak sama sekali. Dibilang aku disana main-main. Itu juga enggak. Terus aku disini pulang malem, aku ada acara buka puasa yang emang udah dijadwalin kayak gitu. Aku enggak negatif-negatif kok. Dulu katanya ibu percaya aku, tapi kalo aku diginiin mulu itu sama aja ibu enggak percaya. Aku udah berkali-kali ngomong aku bakal jaga kepercayaan ibu, itu bener kok. Jangan diginiin bu aku bukan anak kecil lagi. Dan ibu harus tau sikap ibu yang diemin aku kayak gini ini malahan yang kayak anak kecil. Ngga bagus tau bu. Oh iya aku udah putus kok.”
Sambil air mata itu keluar lagi aku meneruskan. Emang sedikit kayak disinetron, tapi ini sungguhan.

“kakak, kakak enggak tau ibu agak protektif sama kamu, soalnya kamu perempuan kak. Ibu sayang kamu. Ibu enggak mau anak ibu jadi yang jelek. Ibu bilang kamu berfoya-foya karena, cari uang itu susah kak sekarang, jadi jangan dibiasain kayak gitu. Ibu cuma mengajarkan kamu doang kok. Maafin ibu kalo kamu jadi putus, tapi itu bentuk sayang ibu, ibu enggak mau kamu dia nyakitin kamu kak. Yuadah maafin ibu juga kalo ibu over protektif sama kamu. Maafin ya. Ibu pengen kamu di Jogja belajar sungguh-sungguh dan bisa jadi orang.”

Ternyata ibu juga enggak kuat nahan nangis, dan hari itu kita nangis-nangisan bareng. Unyuuu banget enggak si?

Tapi ibu bener, walaupun wanita itu sering sekali berbeda pendapat sama aku, suka bawel, suka marah, suka ngambekan. Tapi dia sayang banget sama aku. Dan aku juga. biarin belum lebaran juga saat itu, aku udah maaf-maafan duluan, jadi berasa bersih lagi pikiran jelek itu, pikiran kalau ibu inilah-itulah. Dan satu lagi dia bilang.

“kak, kamu sungguh-sungguh disana, berusaha jangan kecewain ibu ayah. Ibu enggak pengen hidup kamu kayak ibu gini. Ibu pengen kamu jadi orang. Mungkin kalo kamu udah lulus, ibu juga udah tua. Jadi belum tentu juga ngerasain hasil kamu nanti”

Dan saat itu juga, air mata itu keluar deres banget.

I love you bu


Senin, 20 September 2010

selamat hari raya idul fitri
mohon maaf lahir dan batin yaa :D


*ngga ada salahnya minta maaf, walaupun itu terlambat kan?

Sabtu, 04 September 2010

JAKARTA

ke jakarta aku kan kembali uwowuwow. ~~

sebulan pas gue menetap sebagai warga jogjakarta, susah senang sudah gue lewatin disana, susah cari makan yang enak dan murah, masalahnya di EMB kita semua udah pada bosen, cari lagi ke tempat yang lain tapi tempatnya lumayan jauh untuk seorang gue berjalan kaki. senangnya mendapat teman baru di kampus, dari sabang sampe meraruke semua jadi satu dalam kampus mipa tercinta, walaupun mipa ada dua tidak memisahkan kita untuuk bertemu ya kawan (mipa selatan-mipa utara deket kaaan?) terus senangnya ketemu seniman yang benar-benar seniman, om pengamen di ngudi rezeki ntar ketemu lagi om seeep. terus makasih banget buat abang-abang gue dan kak iyes bukbernya, kumpul-kumpulnya.buat bapak guru dosennya juga aturan mainnya banyak bosss. oh iya ibu kos gue makasih buanget-nget ya ibu.

dan sekarang gue balik ke jakarta. melupakan sejenak kehidupan gue di jogja, perbaikan gizi sedikit di jakarta. :D