Selasa, 31 Januari 2012

Rumahku Keluargaku



Aku sangat dekat dengan keluargaku begitu juga dengan rumah tempat kita tinggal. Sudah hampir sepuluh tahun aku tinggal disana. Dari sana juga aku diajakrkan banyak hal tentang kehidupan. Begitu aku melangkahkan kakiku untuk mencoba dunia baru diluar sana aku merasakan hal yang baru juga di lingkungan berbeda di luar rumah. Hal itu semua baik buruknya sangat terasa bagiku waktu pertama kali aku meninggalkan rumah menuju perantauan di daerah berbeda dengan keluargaku. Di Jogja sana. 

Waktu aku tidak ada kegiatan kampus atau lebih tepatnya aku hanya ada di dalam ruangan itu, suatu ruangan 3x2,5 meter… yap itulah kamar kostku. Ketika aku memandang ke arah langit-langit kamar kostku, yang tebayang adalah kamarku disana dan rumahku disana. Memang bukan seperti rumah mewah pada umumnya kita lihat di Jakarta. Rumahku adalah modifikasi kontrakan petak tiga yang dijadikan satu lalu ditambah dua meter setengah sebagai halaman pemanisnya. Walaupun begitu, disitulah kehangatan keluarga itu muncul di bawah atap bergenteng tanah liat tua itu, aku bersama keluargaku menggantungkan kenyamanan padanya. Untung ayah dan ibuku jenius dapat me-mix-and-match rumah kita itu menjadi rumah yang enak dilihat dan nyaman pastinya. Tidak perlu barang mewah yang ada didalamnya. Hanya ide-ide kecil yang tertumpah dari otak mereka, seperti mensekat ruang tamu, ruang keluarga, dan pastinya harus ada tempat ruangan untuk kita sholat dan bersyukur.

Aku sangat bersyukur dengan itu semua. Dibandingkan dengan tempat kostku sekarang yang terbilang cukup bagus bangunanya yang memiliki desain modern minimalis dan nyaman, rumahku tidak kalah bersaing walaupun kontrakan yang digabung, aku memiliki keluarga disana tidak seperti di kostanku ini. Lagipula harga kostanku lumayan mahal.

Memang tepat sekali julukan rumah itu sebagai keluargaku. Aku akan mendeskripsikannya sedikit ke kalian, mulai dari halaman depan yang kecil itu kehangatan dalam keluarga itu sudah terbentuk, ketika melihat ibuku sedang memasang payet disana. Masuk lagi menuju ruang tamu alakadarnya karena disana belum tersedia bangku dan kursi, ibuku bilang “kayaknya tukang meubel nyasar deh, bangkunya belum nyampa” sambil senyum kecil tulus ibu menggelar karpet sebagai pengganti bangku dan kursi. Disebelah kanan ruang tau ada kamar ayah dan ibu serta adik kecilku. Lalu masuk lagi ke ruang keluarga yang kadang diberi sekat kadang tidak, disana adikku Hanan dan Rafif bermain. Disebalah kanan ruang keluargaku ada kamar yang diberi warna merah jambu dan kuning oleh ayah, itulah kamarku. Di sudut ruang keluarga, ayahku memberi sekat permanen untuk tempat sholat. Ayah selalu mengajarkan kita untuk bersyukur. Masuk lagi ke dalam, ada dapur ibuku , tidak besar tetapi selalu menciptakan masakan-masakan enak. Lalu ada kamar mandi dan gudang. Gudang disini dimaksud bukan gudang tempat sarang tikus biasanya. Gudang yang ini untuk menyimpan barang yang jarang dipakai di bagian langit-langit atapnya, dibawahnya untuk tempat mesin cuci dan menyetrika.

Aku bersyukur rumahku tidak seperti rumah orang gedongan disana. Karena kalau rumahku besar seperti itu, pasti kuantitas bertemu keluarga sangatlah jarang. Ketika kita dikamar, ayah diruang keluarga, ibu di dapur. Lalu ayah pergi kerja, kita menuju ruang makan untuk sarapan, sedangkan ibu sibuk dandan di kamarnya. Aku juga bersyukur rumahku tidak tingkat, itu juga menurutku mengurangi keharmonisan dalam keluarga, karena ayah-ibu ditempatkan di bagian bawah rumah dan anak-anaknya dibagian atas rumah. Atau sebaliknya. Kalau di rumahku rutinitas apapun bisa dikerjakan bersama-sama sekeluarga.

Maka dari itu sangatlah tepat sebutan rumahku keluargaku untuk rumahku di Jakarta.

teman-teman tolong vote yaa...


1 komentar:

  1. setuju banget.!! biarpun ga sebesar rumah orang gedongan,, tetep harus mesti bersyukur.

    BalasHapus