Minggu, 13 Januari 2013

Derajat kegaulan


Hahaha judulnya aneh ya?

Jakarta menjadi icon, trendsetter kebanyakan orang, itu biasa.
Dari fashion, cara bicara, sampai tingkah lakunya.

Aku aseli Jakarta dari orok sampe 17 tahun hidup disana.
Sekarang kuliah di kota pelajar Yogyakarta. Kota yang kental sekali budaya jawanya.
Disini aku harus berubah, tidak halnya seperti di Jakarta.
Tata karma harus diperbaiki, walaupun itu sulit.

Di Jakarta biasanya aku bilang lu-gue, itu biasa.
Tapi di Yogyakarta kalo ngomong seperti itu dibilang sombong.
Di Yogyakarta biasanya untuk panggilan seperti itu kata yang digunakan adalah aku-kamu, aku- kowe,  kulo-sampeyan,  kulo-njenegan.
Susah memang transisi seperti ini, tapi gimana lagi?
Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung, itu kata orang tuaku.

Awalnya agak kagok untuk sekedar ngomong aku-kamu, soalnya panggilan ini biasanya ditujukan untuk orang yang berpacaran. Jadi suka agak geli mendengarnya. Hihi

Berusaha laaah…

Tapi ada beberapa temen luar dari Jakarta, kayaknya berusaha keras ngomong gue-lu. Padahal di daerahnya jarang mereka gunakan. Aneh ya?

Aku cenderung menghormati teman yang apa adanya.
Enggak harus ngomong gue-lu kok biar dibilang gaul J

Setelah hampir masuk tahun ke-tigaku di Yogyakarta, aku mulai nyaman dengan panggilan aku-kamu. J

Tapi ada saatnya ketika kita ngumpul bareng sama orang Jakarta yaa… keluar logat aselinya.

Bagaimana menempatkannya aja, orang Jakarta yang sering dikenal belagu, tengil, aja bisa nge-blending. Masa kalian yang memang sudah seperti itu mau sok-sokan menjadi tengil? hehe




Emang kalo seperti itu (ngomong lu-gue) derajat kegaulan meningkat?


1 komentar: